Friday, November 18, 2011

Di Depan Layar Datar


Hai apa kabar?
Wah, masih ada uang jajan?
Aiiiihhhh, pacar baru kamu siapa sekaranggggggggg?????

Itu bukan kalimat pembuka. Itu teriakkan yang tidak menembus batas kaca.
Tidak banyak yang dikatakan dalam beberapa kurun waktu, lalu tanpa celah itu semua bisa terbuang dari sini.
Nyatanya kalimat "Aku kangen kamu" lebih sering aku ucapkan padanya daripada sama pacar sendiri.
Dia siapa? Apa derajatnya?
Diam!
Jangan banyak tanya kalau kalian belum paham soal pola bercanda. Kami hanya dua. Berada pada bagian paling penting dalam menempatkan posisi masing-masing.
Lebih dari semua kata cinta yang membuatmu gila, kami adalah dua yang terperangkap dalam layar datar. Terjebak dalam rasa rindu yang merusak cara bicara, menekan bathin setiap punya masalah dan tidak bisa terungkap pada mereka.
Apa kelebihannya?
Tutup mulutmu!
Ini tentang apa yang belum mampu kalian terima soal sebenarnya dari kekurangannya yang nyata itu aku merekam yang lebih baik.
Kami dua, terhimpit dalam jarak yang begitu nista, merantai bagai jalur yang tak tentu arah. Bercabang.
Tapi ini kami, dua.
Sayang yang kami lebihkan untuk kami masing-masing yang lebih dari sekedar bisa mengerti.
Semua akan terekam, layar datar sebagai saksi media bungkam.
Peluk itu memang tidak menembus kaca, makian tawa itu memang tidak berakhir dengan jitak kepala, tangis itu memang tidak akan ada yang menyeka dalam nyata.
Tapi semua dekat, semua lebih melekat.
Kami adalah dua,
yang bertanda tangan di depan layar kaca, akibat jarak yang begitu nista.


(NB: ditulis untuk sahabat saya, Grace Widya Manroe)

Friday, October 28, 2011

Satu Sama


Pernah terpikir melangkah duluan sebelum ada yang mempengaruhi?
Pernah bicara duluan sebelum ada yang memulai bicara?
Pernah menganggap ini semua serius sebelum ada yang mengatakan ini kebenaran mutlak?
Iya, kamu bahkan berontak parah karena aku mengambil arah
Iya, kamu bilang, kamu kecewa karena maju satu langkah di depanmu
Iya, kamu baru mengabil sikap setelah semuanya terpecah

Satu sama untuk ini semua
Satu sama...

Tuesday, October 25, 2011

I Like Mengguncang & Menggelinding


Asalnya tidak ada yang tau. Ya, aku suka.
Beberapa cara yg dibuatnya dengan segala tawa yang mengesankan, menjadikan aku terjun bebas dari tempat tertinggi lalu tersenyum dengan lepasnya.
Ini adalah tindakan yang sesuka hati, berteriak, bergerak bebas, berlari dengan brutalnya. Siapa yang mengira aku begitu senang?
Berbagi dengan cara yang sama, hadir dalam sebuah jedah yang tiba-tiba membuat rangkaian spectrum-spectrum itu semakin kuat, berbahaya? Tidak. Ini menyenangkan.
Jangan pikir ini mainan anak kecil, bukan. Ini hanya cerita bersenang-senang.
Tidak digambarkan, tidak dilukiskan, tidak tertangkap kamera.
Ini rasa...

Mengguncang lalu menggelinding, terserah ritmenya bagaimana, tapi nada telah setara terbawa.
Aku suka...

Friday, September 23, 2011

I Quit


Hampir setengah hari semuanya meledak. Ini apa?
Habislah sudah nyawa kebaikan itu. Namanya pakai hati, apa mau kubilang? Beratlah gajah memang istilah yang tepat.
Kupikir aku sudah cukup pintar menyimpan nyanyian gelisah. Ternyata salah, ya memang. Aku siapa?
Sempurnanya itu tadi, pagi buta. Beberapa gambaran keyakinan memudar selepas hasrat yg tercecer tak karuan waktu dulu. Menyesal? Tak bisa disangkal. Akhirnya menemukan alasan untuk tidak menetapkan apa yg kupunya sebagai panduan untuk selamanya, padamu.
Habis akal aku memikirkan bagaimana harusnya melepas. Bisa? Semoga iya.
Aku cukup tau apa yang paling menyakitkan saat raga terwujud, tapi terhindar mata bathin. Mendadak semuanya meledak. Merebak. Menyeruak. Menghabisi kesatuan otak kala itu. Salah langkah, dan terima kasih pengalaman.
Aku orang yang selalu cukup tau diri untuk tetap ada atau harus menghindar dengan ketiadaan. Perkataan adalah sumpah.
Kubilang aku bukan sampah yang akan tertarik saat dirasa cukup punya manfaat. Bukan.
Aku cukup punya keahlian untuk lebih bisa dipandang dari sekedar kenamaan yang besar. Bukan pula pengejar ribuan mulut-mulut akan bicara soal jiwaku. Jiwa yang dipinjamkan ini.
Aku sudah selesai dengan semua. Aku campakkan jauh ke jurang terdalam soal yang menjadi harapan. Cinta, hati, ego, perasaan, sakit hati.
Sudah kuserah terima kembali sisa perasaan yang sempat kutitipan kepadamu. Dulu, saat aku lupa waktu begitu semu.
Kesadaran kebodohan memang ada pada baris belakang. Tapi harus segera kuluruskan.
Iya, aku sayang kamu dan cinta ini telah membatu, sejak dulu.
Dan itu sebagai bonus untukku, sedang aku akan tersenyum menjauh. Pada takdirku yang telah menunggu.

Aku mundur! :)

Friday, August 26, 2011

Meninggalkan Jejak Dengan Jarak


Tadinya begini, aku (sudah) menganggap yang pantas dianggap itu menjadi sebuah ikatan. Tanpa basa-basi, tidak pula dengan kata pengantar.
Tadinya memang begini, berjalan dengan arusnya, tanpa sisa-sisa hujan. Licin.
Seharusnya memang begitu, saat aku masih berada di lajur yang sama dengan kendaraan yang berpacu dengan santainya. Lalu perlahan aku terhenti, di pertigaan.
Siapa yang menyangka aku akan menyeret langkah. Berat, serat, pekat, dan berbahaya.
Aku mendengarkan mereka yang berlompa dengan kecepatan dipaksaan. Mengharapkan sebuah medali dari arena perjuangan sampah. Pura-pura dan palsu kiranya rupa.
Berlari dan mengejar...
Kuharap semua tenang. Aku masih santai di belakang.
Menertawakan pergerakan cepat perputaran kembang-kembang waktu. Mengikik tertahan pada yang akan mengusahakan diri dari bukan pribadi luhur.
Jejak-jejak berdikari...
Aku pikir aku masih manusia. Yang berpikir jauh ke dalam sebuah kerangka. Aku pikir begitu saja.
Mengingat yang telah mereka tawarkan. Menelaah yang sedang mereka bicarakan.
Aku telah membawanya sejauh itu dan telah ditinggalkan sejauh ini.
Aku masih diam,
Dan berputar...
Menarik jejak-jejak dengan jarak yang menertawakan
Sejauh apa dia dan mereka paham akan pola-pola kebohongan yang sedang dijalankan.
Selamat...









Thursday, August 18, 2011

Antar aku ke mana?


" Aku tahu kamu pasti bisa ngertiin aku."

Kalimat itu sudah lima kali terucap dari bibirnya sejak satu jam kami duduk di cafe ini. Aku masih saja diam. Semua sebenarnya memang sudah jelas, tapi dia masih saja barusaha (lagi) menjelaskan semuanya dari awal. Katanya aku belum paham.

"Kamu pernah bilang hidup itu pilihan. Pilih apa kata hati jangan apa kata orang. Dan aku sedang menerapkannya sekarang."

Itu memang benar. Tapi dia lupa bahwa dalam sebuah pilihan, menyakiti hati orang lain seharusnya tidak termasuk di dalamnya. Dia juga lupa, bahwa masalah hati juga tidak bisa diajak diskusi. Sekarang maunya siapa yang harus diikuti? Tidak semua pilihan yang benar itu baik kan? Terutaman dalam hubungan ini. Hubungan kami.

"Aku tahu kalau kamu belum bisa nerima ini semua. Tapi aku kenal baik kamu, kamu orang yang selalu penuh pertimbangan, apalagi untuk kebaikan bersama."

Kali ini ucapannya dibarengi dengan memegang tanganku. Erat sekali. Aku tahu dia sungguh-sungguh. Itu makanya aku yakini pilihanku bersamanya selama tiga tahun belakangan ini. Tapi ini benar-benar sulit. Dia memintaku untuk hal yang aku sendiri tidak pernah berpikir untuk melakukannya. Apalagi untuknya, untuk dia yang telah aku pilih untuk berjalan disampingku, nanti.

"Dia baik, kamu baik, aku kenal baik kalian. Bisa demi aku?"

Ini pertanyaan yang sangat menjebak buatku. Demi? Dia pikir yang sudah aku lalukan selama ini apa kalau bukan DEMI? Iya, benar. Aku selalu demi dia, sekarang dia demikian.

"Sayang, tolong. Aku nggak bisa nolak permintaannya. Dia nggak pernah tahu hubungan kita selama ini. Aku juga nggak pernah cerita. Tapi waktu dia bilang dia suka dan sayang sama kamu aku nggak bisa berbuat apa-apa. Dia bilang dia akan melakukan apapun untuk kamu, bahkan dia kenal kamu duluan daripada aku kan? Aku juga baru tahu kalau sosok perempuan yang dia ceritain selama ini, itu kamu. Aku bisa apa? Dia temen aku. Nggak bisa aku korbanin dia."

Kalimat terakhir darinya itu sudah cukup. Aku rasa pertemuan ini harus disudahi, dia terlalu dangkal mikirnya. Atau aku yang terlalu jauh memahaminya?
Aku beranjak dari tempat dudukku, membawa kakiku pergi menjauhinya. Tepat setelah aku memutar arah, dia menarik tanganku.

"Aku yang antar kamu pulang!"
"Kamu bahkan telah meninggalkanku di sini. Bagaimana mungkin kamu mengantar aku?"

Kalimat pertama dan terakhir yang kuucapkan. Perlahan genggaman tangannya merenggang.
Dia benar-benar melepasku.

















Tuesday, August 16, 2011

...

Ingin rasanya saya nangis sejadi-jadinya
Hari ini,
Iya hari ini...

Karena Dia Milik Kita, INDONESIA



Kita sama
Berpijak di tanah yang sama, lahir di tanah yang sama
Kita sama
Tumbuh dalam air kehidupan yang sama, dewasa dalam ruang yang sama
Kita sama
Berada dalam rumah yang sama, berada dalam derajat yang sama

Indonesia Tanah Air Betah...

Ada yang membedakan
Beberapa dari kalian bilang ini neraka
Ada yang membedakan
Beberapa dari kalian bilang ini terbelakang
Ada yang membedakan
Beberapa dari kalian bilang ini tak pernah merdeka

Pusaka Abadi Nan Jaya


Lalu semua bergerak searah
Kita akhirnya bersuara sama
Meneriakkan kata yang seharusnya dari dulu terdengar nyata
Bukan hanya hari ini, kemarin atau yang lalu
Saat dia (masih) bukan milik kita.

Indonesia Sejak Dulu Kala, Tetap Dipuja-puja Bangsa
Di Sana Tempat Lahir Betah, Dibuai Dibesarkan Bunda



Ini harinya
Di mana dia dibesarkan
Ini harinya
Di mana dia telah telah dewasa
Ini harinya
Di mana seharusnya dia (harus tetap) dihargai
Ini harinya
Di mana dia tetap dia
INDONESIA...

Tempat Berlindung Di hari Tua, Tempat Akhir Menutup Mata





Karena apapun dan siapapun dia
Karena di mana dan bagaimanapun dia
Karena biar semiskin-miskinnya dia
Dia tetap dia, dia milik kita
Negaraku,
-INDONESIA


Indonesia Ibu Pertiwi, Kau Kupuja Kau Kukasihi, Tenagaku Bahkan Pun Jiwaku, Kepadamu Rela Kuberi


Merdeka.
Merdeka..
Merdeka...
66 Tahun Dirgahayu Indonesiaku.

:)


Monday, August 15, 2011

Sebut Saja, Cinta...


Ini bagian vital yang akan dibicarakan. Tadinya begini, rasa bagaimana yang menurutmu nyaman? Kekurangan yang bagaimana yang akan terhapuskan? Perlakuan apa akan terasa berlebihan? Semuanya bahagia, dengan caranya masing-masing, dengan kesederhaannya sendiri-sendiri.
Sebut saja, cinta. Dia siapa? Apa hak-nya? Bukan itu fokusnya.
Aku terlalu jauh mencoba mengerti semua apa yg diinginkan. Tapi hati ini yang tak mau mengerti. Tahu apa kamu soal rasa kasih sayang? Sampai sekarang saja kau tak pernah paham maksudku.
Sebut saja, cinta. Apa yang harus diungkapkan? Bagaimana caranya?
Semua yang baik pasti akan terikuti. Hatimu menunjukmu, kamu menoleh ke belakang. Dilemparkah? Atau arahnya yg meleset dan kau biarkan melesat?
Sebut saja, cinta. Diamnya untuk kebaikan bersama. Rasanya untuk yang merasakannya. Aku terbiasa menyimpan senyummu dibalik meja. Kulihat diam-diam saat kau berkelana. Entah kemana.
Sebut saja, cinta. Ini terlalu frontal, tapi apa mau dikata aku terlanjur merasa dan dia tahu namun seolah membiarkannya binasa. Bagaimana akhirnya?
Kamu memeluk dirinya lalu erat menggengam tanganku dari balik kejadian itu.
Kata seorang teman, nikmati saja. Aku tak bisa berkata, kini giliran kau yang memendam rasa. Apa ini salah?
Sebut saja, cinta. Kita terbiasa bersama dalam segala peristiwa, dan kini aku yang tak biasa karena tanpa judul di dalamnya. Boleh kau melepasnya? Aku yang mengenalmu lama. Bisa kau menyanyanginya? Kita yang terlanjur tak bisa dipisah. Bagaimana aku bilang soal cinta? Sekarang kau berada dalam ikatan. Kenapa kau tak membiarkanku keluar? Menjelma jadi apa saja demi aku, dan kau biarkan dia demikian.
Sebut saja, cinta.
Aku habis kata-kata....

Thursday, August 11, 2011

Kok Curhat? Kok poniiiiiiii?

Semuanya harus pake awalnya biar kerenan dikit. Seperti pada suatu hari, aku.... dan seterusnya dan selanjutnya serta kemudian. Oke, cukup.
Awalnya aku berniat membuat blog ini sabagai wadah penipuan publik. Iya, dengan segala isinya yang (sok) puitis mampus kecampur pengetahuan yang sok banget soal merangkai kata dan menjahit huruf-huruf #hallah. Intinya cuma satu, aku cuma ingin didengar waktu aku ngomomg, cuma mau dibaca kalo lagi nulis. Nggak butuh dimengerti dan memang nggak ingin dipahami. Semuanya ya.. ya itu, apa yang aku tulis, aku selalu berharap apa yang mereka pikirkan berbeda dengan apa apa yang aku ceritakan. Kalian paham? Aku harap begitu. Soalnya menyusun kalimat ini saja aku sendiri kesulitan apa maksud dan tujuanya.
Cukup perdebatan soal ini. Jangan mengharapkan penjelasan lebih soal berubahnya alur blog ini. Semuanya butuh perubahan, seluruhnya harus merdeka. Iya merdeka=bebas=suka-suka hati. Sudah sampai di situ saja.

Aku selalu berpikir, saat kita mau berubah ( ke arah yang lebih baik) kenapa banyak yang mempertanyakan? Kaidahnya gini, setiap orang tahu apa yang yang terbaikk untuk dirinya sendiri. Contohnya ada orang yang mau diri, waktu kita bilang itu pilihan yang salah, lalu yang benarnya juga kita nggak pernah bisa bantu dia kan? Kita cuma bisa bilang 'jangan', sudah gitu aja. Lalu salahnya di mana? Nggak ada. Semua cuma butuh pemikiran yang positif dan nggak perlu ngurusin urusan orang lain.
Ini memang makin ngawur. Tapi aku cuma mau ngajak mikir aja kok. Mikir...mikir..mikir..tidur (?)
Cuma ada pesan dan kesan yang mau aku bilang, jangan ngerasa (sok) berhak atas jalan hidup orang lain. Kamu baik karena yang kamu ingat dari dirimu sendiri itu ya cuma kebaikanmu aja. Jadi lupakan soal menghakimi karakter orang lain dan belajarnya menerima kodratmu sebaik mungkin. Kita semua sama-sama paham, bahwa kita sama-sama tidak mau diganggu jadi tutuplah mulutmu itu.
Boss...

Wednesday, August 10, 2011

Garis Besar

Kamu ada di dekatnya, tapi mengenggam tanganku
Kamu yang bersamanya, tapi tak pernah jauh dariku
Ini pertanyaan atau pernyataan?
Beberapa garis yang mereka bilang jalannya, aku tak melihat lurusnya
Banyak garis yang mereka tawarkan, tak berminat di mataku
Dia itu siapa?
Aku ini siapa?
Siapa yang pantas dipertanyakan saat bergandengan tangan denganmu?
Semua sia-sia
Semua tak berguna
Semua hanya sampah

Kamu membiarkan dirinya masuk dan menahanku untuk jangan keluar
Apa yang salah?
Egokah?
Rasakah?
Keadaankah?
Berpaling namun tetap menoleh padaku
Maunya siapa yang harus diikuti?
Ini bergaris-garis dan berpola-pola pertanyaannya
Siapa yang mampu menjawab?
Katanya biarkan mengalir
Hikmahnya harus aku syukuri
Tapi jiwa-jiwa yang merasa salah, menghadang apa yg sedang aku nikmati

Terimakasih,
Besar....

Saturday, June 25, 2011

Gambaran-Gambaran




Saat sabar kupilih atas rasa yg tidak pernah kuminta,
kalimat kasar dari suara yg sangat tidak diharapkan terdengar lantang,
Memporak-porandakan ketenangan yg ada.
Sakit hati...

Pergilah langkah-langkah cahaya yang tidak menerangkan
Menjauhlah siluet senyuman yang mematikan
Ada yang lebih baik dari hal yang tidak pernah kuminta,
Nurani ada dari lahirku ke dunia
Fantasi semata

Diam angkat bicara
Dia menjawab semua pertanyaan-pertanyaan bodoh yang menyerang tanpa aba-aba
Dia pikir aku telah mati rasa
Aku sedang memilah
Tentang garis masa depan yang tergambar samar-samar
Tentang cinta yang berlalu sendirian
Semua hanya akan terjadi kebahagiaan
Itu pilihan

Yang menentukan gerakan-gerakan kuas pada kanvas putih beraturan
Berpola menarik dari tarikan tangan-tangan berkemampuan nilai seni tingkat tinggi
Aku hanya sedang menceritakan,
Segala perumpamaan yang menjadi pilihan
Aku pilih ketenangan pada otak...

Friday, June 3, 2011

Dari Cinta Ibuku



_Ria Armanto



Kugengam kisah masa kecilku
Kutertawakan nakalnya diri ini
Saat akal tiada seimbang

Kupercayakan dia sebagai pahlawan
Saat keberanianku dipertanyakan lawan
Dia tersenyum waktu aku akhirnya kalah

Direstunya kudasarkan cita-cita
Didoanya kupastikan kebahagianku
Ditangannya kupercayakan masa depan

Kini aku dewasa dipengawasannya
Merekahlah senyumnya setiap musim
Dalam santai di usia senja

Ibuku membelai mimpiku
Ibuku menyambut harapanku
Ibuku surga ada saat bersamanya

Friday, May 20, 2011

Di Atas Warna-Warna

Kesalahan yg pengakuannya tertunda
Lebih baik terbungkam daripada hinanya rasa terungkap
Di balik dunia bahagia,
Ada yg akan menyenangkan jika membahagiakan
Sayangku bukan sekedar bertemu
Ia tersentuh dari nyali mengungkap rindu merdu
Isinya lebih beragam dari pelangi yg berwarna tujuh
Jadikan peluru untuk kekhawatiran lingkungan berbicara

Tuhan tahu sejak kapan dia ada di hatiku
Kudongengkan tentang cinta seluas wawasannya
Kuberitahu aku punya banyak rasa untuk dibagi dua saat dia bilang tak punya ruang cinta bagiku berada.
Hanya butuh kepercayaan memulainya

Apa dia mempercayaiku?

Tuesday, April 26, 2011

Bye...

Kau dan aku bukannya tak saling cinta...

Tapi, kenapa keluhan-keluhan itu selalu menderah?

Kau dan aku bukannya tak saling setia...

Tapi, kenapa jarak tengah berada diantaranya?

Kau dan aku adalah kebaikan bersama...

Tapi...?

:(

Monday, April 25, 2011

:)

Ada baiknya kamu yang tertawa
Yang terbaik aku yang mengukur jalan ke belakang
Kebaikannya untuk bersama
Baik-baik saja, semoga itu kalimat terucap lantang

Jalanlah padamu atas yakin yg kau pondasikan
Kuatlah padaku pada rasa yang tertimbun persahabatan
Diamlah mereka yg akan menjatuhkan
Tenanglah, doaku teriring senyum tiada kesakitan

Padanya,
keberuntungan telah datang.
Kau...

Sunday, April 10, 2011

Serangkaian Kado

Di sini berjuta aksara kata terjahit dengan benar sebagai doa
Di situ naluri kontak bathin setulus mengucapkan kau akan bertambah bahagia
Di sana sorak berteriak kejutan telah kau tangkap bersama senyum merekah

Bertambahlah kharismamu akan milikmu tiga malaikat
Menjadikan hal akan terlihat gagah dalam kasat mata menilai
Menoreh sejarah dalam usia bertambah kau sebagai pemilik yg punya hati
Ini serangkaian kado mengulur dari lainnya
Makna didalamnya lebih mewah dari bingkisan luar tanpa warna
Kamu yg membuka tangan pada tawa siapa saja, mereka mengirim kebahagian untukmu nanti berjajar datang tak bersamaan

Selamat ulangtahun,
Hidupmu akan penuh dengan keceriaan

Saturday, April 9, 2011

Hai...

Kak, kau lagi sedih?
Hai, kak...
Kau lagi patah hati?
Hai, kak...
Aku tahu itu
Kau lagi tak enak rasa?
Hai, kak...
Aku tahu itu
Kau ingin dia mengerti?
Hai, kak...
Aku tahu itu
Kau mau semua baik-baik saja?
Hai, kak...
Aku tahu itu
Kau tetapkan hatimu untuknya? Ingin selamanya?
Hai, kak...
Aku tahu itu
Kau menangis?
Hai, kak...
Aku tak tahu soal perasaan yg dalam, karena memang beda pengalaman.
Hai, kak...
Aku tahu sesuatu
Jika kau sedih berbagilah, agar kesedihanmu berkurang, jika kau senang, berbagi jugalah agar kesenanganmu bertambah.

Hai, kak...
Tertawalah.
Tertawakan patah hatimu

pisslopeNgawul

Friday, April 8, 2011

Memang Jauh Atau Sedang Menjauh?


Jarang meluas semakin tiada kendalinya
.
Merasa mana yang butuh, adalah ego pendukungnya
.
.
Itu pintu menuju pendekatan
.
.
.
Itu jendela untuk kau melarikan diri
.
.
.
.
Sia-siap aku tak mengabarkan nasib lagi
.
.
.
.
.
Karena kau pilih untuk memilih tak mendekat
.
.
.
.
.
.
Pada susah senang saat dulu berhimpitan

Thursday, April 7, 2011

Musim Ini

Kencang laju kereta membawaku menuju damai
Angin mengejar kepastian mimpi yg tergantung
Akan hal-hal yang mengecewakan,
Aku tak lagi biasa merekah senyum
Hallo bumi pijakan kaki-kaki tumpuan kekuatan
Ada yg nyata untuk kau beri sedikit kepada para nyawa?
Lalu lalang pikiran-pikiran menganggu hidup imajinasiku
Sampai jumpa kawan tertawa
Aku lagi membiasakan peka akan kesendirian

Sunday, March 13, 2011

Kembali Pergi



Akhirnya senyum itu kembali merekah
Pada Pertama kalian menepuk pundakku tanda keakraban
Akhirnya aku kembali terbuka
Atas ucapan kepercayaan tanda saudara

Selamanya tiada kesempatan kedua
Pada maafku atas khilaf kesengajaan daripadamu muka dua
Pergi, datang tanpa permisi
Aku bagian paling tak tersentuh hati

Tinggal kalian bersihkan yang hitam
Lalu berikan yang putih pada yang belum tersakiti
Cukup mengenyam sekali
Arti tulus sementara yang kalian beri

Lalu aku mati lagi

Friday, March 4, 2011

Masih

Kau masih di situ
Tempat biasa aku mengindahkanmu
Kau masih di situ
Berada ditempat favorit untuk menyapu pandanganmu

Aku tetap di sini
Diam mengagumimu dalam sepi
Mencuri senyummu di seberang ruang sibuk
Kusimpan rapi dalam kotak rahasia

Antara jarak dan rindu
Kau tepat di samping penglihatanku
Menggambar lekuk wajahmu
Dalam memori otakku

Kau masih di situ
Ada dalam tempat terbaikmu
Hatiku...

Wednesday, March 2, 2011

Surat Sahabat



Taman itu milik kita
Selalu terlihat indahnya di pinggir kota
Tempat mengalirnya cerita bersejarah
Saat bersama kita masih memakai seragam sekolah

Kebodohan remaja tiada terelak
Tertawa bebas selalu jadi ingatan berbekas
Imajinasi terbiasa meliar
Dan kita tahu dunia terlalu banyak maunya untuk kita takhlukan

Merendah dalam pikiran
Ini cara dalam menikmati kebersamaan
Sahabat tempat melempar sampah
Hina canda adalah suatu kebanggaan

Menyalurkan suara hati adalah hal langka
Genggaman percaya diandalkan padamu semata
Hanya menunjuk bumi,
Cara kita berterima kasih

Bersama,
Sahabat...

Monday, February 28, 2011

Apa, sayang?


Ini semua tentang kita
Masalah perjanjian dalam ikatan menyayangi,
Mencintai

Ada sebuah tempat, kau menunjuknya untuk aku ada di situ,
Hatimu

Ada segenggam kepastian kau akan kembali, saat kau akan melambai,
Pergi

Ada rindu memburu, darimu yang saat ini berlalu dari pandanganku,
Jauh

Ada-ada saja tentang kita, berkata saling memahami, berisyarat saling mengerti.
Ego

Sini kuberi tahu,
Petunjukmu soal hati, kau menyuruh tetap di sana
Kepastian yang kau tekankan, aku percaya terlalu dalam
Paragraf rindu yang kau tuliskan, aku simpan dan pertahankan
Semua tak terkatakan, aku kerjakan, aku lakukan,
Aku menunggu

Sekarang apa?
Apa, sayang?
Kabar burung membuatku jatuh dan terinjak.
Kau menyuruh aku berbesar hati
Kau memilih hati yang lain
Apa?
Apa, sayang?
Ini semua tentang apa?
Alurmu dalam drama opera?

Apa, sayang?

Saturday, February 26, 2011

Kemarahan si ria...


Jadi maumu apa?
Minta tangan kanan atau tangan kiri?
Tangan kiri patah tulang, tangan kanan masuk UGD..!!!
Hah?
Bisa jawab ga?
Minta di lempar ke hutan Sumatera terus dikawinkan sama gorila?
Hah?
Terus minta apa lagi?
Minta di duain atau tigain atau jadi kesebelasan?
Heh?
Bilang sekarang permohonanmu selanjutnya?
Woi....
Anak hilang atau hilang induknya?
Mau di angkat jadi anak bola atau ratu dangdut?
Tinggal tunjuk jadi juragan kau anak muda
Hubunganmu sama anggota DPR apa?
Jidatmu masih ditempat yang sama kan?
Sombongnya tinggi lebih tinggi dari jabatan presiden
Terus, sekarang apa?
Saya kenapa? kamu bapaknya siapa?
Saya boleh pamer ini kaki saya masih kuat?
Ini pegel mau nendang. Nendang bola..

Jadi,
Sekian...

Wednesday, February 23, 2011

Empat Persegi (Rasa)

Lepaskanlah ikatanmu
Dengan aku biar kamu senang
Bila berat melupakan aku
Pelan-pelan saja

Sepenggal lirik yang menggetarkan hati tiap kali mendengarkan lagu KOTAK ini.
Pelan-pelan saja.




Ada hal-hal yang menyenangkan tak terkata lewat kalimat, ada hanya hati yang dapat mengutaran rasa.
Kalian tahu, berapa lama kita kenal dan menyapa dalam senyum terbentuk jujur dari lengkungan garis-garis wajah.
Kotak, selalu ada rasa senang setiap kita saling menatap.
Bertukar kata walau hanya sederhana, selalu saja ada pelajaran hidup yang tidak disampaikan nyata dan terbuka dari kalian.
Menyukai dan mengidolakan, lewat musik dan lirik kalian pahami tiap-tiap hati para penikmat sendiri.






Aku mengenal banyak tentang kalian.
Tentang pilihan yang menjadi tanggung jawab
Tentang mengajari ketulusan
Tentang menghargai karya
Tentang persahabatan
Tentang kekerabatan



Setiap perjumpaan kita yang tak terduga dengan kebaikan-kebaikan yang kalian tawarkan, menjadikan kalian pribadi yang selalu kutunggu untuk sekedar berjabat tangan.
Tantri, Chua, Cella, Posan, pemersatu bentukan utuh empat persegi jiwa-jiwa yang berbeda. Menyamakan derajat dalam fungsi yang tak sama.
Erie Prasetyo, pengisi kotak dalam setiap kosongnya hati, perasaan, energi.
Bersama...
Penambah tawa liar kejujuran, Wiwin, Aam, Abaow, Enoy, Adi, Takur
Kekuatan...





Apa yang tercipta dari kalian, terpahami dengan sabar.
Melodi, merangkai kata, menyatukan nada.
Terima kasih atas inspirasi yang membuka hati
Terima kasih atas tawa yang hadir disela-sela lelah
Terima kasih atas canda mesra tanpa jarak tercipta
Terima kasih atas persahabatan yang indah

Terima kasih,
Idola





PS: kalo ke Medan lagi, pesta duren lagi kita (padahal selalu gitu ya, hhahaha)

Monday, February 21, 2011

Diantara kata


Dibalik awan merah merona
Kau tahu, dia sedang ketakutan?
Malam akan segera menyingkirkannya

Di bawah kolong langit biru
Kau lupa, kita pernah merangkai mimpi
Dan nyatanya tetap jadi mimpi

Di atas bukit barisan
Di atas imajinasi
Di atas kepala, segenggam kepalan.
Cinta

Di samping hatiku
Sejajar hatimu, seirama bersama
Berantai menyambung, senyum dan tawa

Terima kasih,
Bijaksana


Lyrics by : ria Amanto

Friday, February 18, 2011

Perampokan Hak Bercita-cita


Kenapa harus terserah?
Kenapa harus iya?
Kenapa harus mengalah?
Kenapa harus menahan hati?
Kenapa harus aku?
Aku...

Lagi, pembodohan yang tercipta, karena mudah percaya dengan pemalsuan identitas orang yang katanya paling berwibawa.
Aku disuruh berusaha.
Entah apa niat dibalik senyum yang terbentuk tulus itu.
Apa maksud perkataan bijaksana yang berapi-api?
Dan apa keinginan sebenarnya dari semua ini?
Katanya ini akan menjadi yang terbaik dalam hak pilihannya.
Mengubah pola pikir yang tak akan sama dengan orang-orang yang dikhawatirkan mendorong perubahan.
Pernah terpikir sekali saja bertanya apa inginku?
Terlintas sebentar saja apa isi hatiku?
Pahami sedikit saja beban yang kutanggung di kedua pundak ini?
Ah sudahlah, itu kata hati orang yang mengerti.
Terima kasih, perampok hak bercita-citaku. Aku bisa menuntut apa?

Beban pertama adalah keinginan
Beban kedua adalah harapan
Beban ketiga adalah lingkungan
(Kesederhanaan)

Monday, February 14, 2011

Kasih dan Sayang


Ini adalah pasangan yg hanya akan terpisah oleh pengkhianatan.
Cerita masa lalu yang tak kunjung menghilang, adalah faktor paling dasar bercerainya proses kasih sayang.
Dan hidup ini adalah sebuah pilihan.
Pilih apa kata hatimu atau apa kata orang, hanya sesuatu yg dari jiwa akan kembali ke jiwa yg akan memilihnya.

Perputaran saling memiliki akan beberapa pemilik hati, adalah jalan menuju puncak menggenggam satu hati yang dipercaya.
Dipercaya menyimpan baik-baik rasa yang telah diberi dengan ketulusan rasa, rasa yang hanya akan ada untuk sebuah cinta.
Diketahuilah, arti dari sebuah nama yang kau percaya mewakili perasaan tak akan bisa mengubah makna sekalipun kau hina.
Dia tetap dia.

Sebutkan apa yang menurutmu usaha? saat terkata kau membilang masih banyak ikan di laut, tahukah kau cara memancingnya dengan bijaksana? memilih dan memisahkan antara baik buruk, memilah antara mana yang terpilih dan diperbaiki. Kini hanyalah soal permainan kata, dimana kau harus paham artinya sama walau berbeda huruf semata.
Sandingkan yang terbaik menurut hati, periksa dengan baik hatinya menurut mata.

Cinta,
Hadirmu membawa bencana karena jiwa tak kau beri aba-aba atas datangnya.
Getarmu ciptakan ketidakstabilan pikiran, atas tak seimbangnya kesadaran.
Yang punya hati memelukmu erat, tanpa basa-basi permisi mereka membawamu pada suatu kepemilikan.
Kearoganan jadikanmu alasan membenci para pencinta yang mencintai cinta.
Akhirnya jalan tengah kau hadirkan, tanpa sebuah ikatan mengikat adalah mereka kata yg mewakili kesabaran.
Kasih dan sayang, pilihan kedamaian hidup saling mengasihi kita.
Hanya pengkhiatan yang memisahkan.

Kita hidup pada tiap pundak seseorang.

Saturday, February 12, 2011

Kepada YTH


Dunia baru saja terbalik saat aku memutuskan untuk melawan apa yang tertulis dalam catatan kekuasaanmu wahai orang-orang terhormat.

Aku berdiri tak kokoh sebagai mestinya yang telah kau ajarkan selama aku masih tertunduk oleh kata-kata bijaksanamu.
Berpulang ke jalan yang telah lama kurindukan untuk menjadi apa yang terkata lewat hati, kini menjadi lebih baik dari biasa aku diteriaki oleh kalimat kemenangan.
Perlukah sejalan untuk membuatmu merasa menang, atas ego yang membawamu pada pilihan menuntunku kembali pada berontak otak.

Kepada YTH,
Terima kasih atas susah payahmu mengubah pendirianku yang tak kuat iman menolak senduhmu.
Terima kasih atas pilihan terbaik yang itu menurutmu buatku.
Terima kasih atas pelajaran menguatkan hati dari sikap egomu terhadapku.
Terima kasih atas nasehat yang terbaik entah untuk siapa kau lempar setiap hari.

Maaf, aku berlalu. Aku berlari...

Friday, February 11, 2011

Tangan-Tangan 3 Patetik





Kalian tahu kekompakkan itu apa?
Ya, saat tangan-tangan kami dengan lincah menyulam kata demi kata melempar nista kepada satu sama lain saat bertemu di Yahoo Messenger.

Hai nyet, hai dok.
Kalian sedang apa? aku berdoa dengan kusyuk semoga ALLAH mendengar apa isi hatiku agar kalian tidak menertawakanku secara bersamaan. Dan semoga hambanya yang merupakan orang yg teraniaya hatinya ini diberi kekuatan untuk tetap menjaga keunyuan saat menahan untuk tidak tertawa seperti orang hilang warasnya.
Kalian tahu kita ini berada dalam ikatan apa? jalinan tanpa mesra yg selalu tercipta dengan sengaja tanpa unsur rekayasa yg selalu membuatku senang. Pertemanan hasil pertemuan teknologi anak g4oEL zaman sekarang, yg tadinya bukan cuma bercanda sok kenal sok dekat tapi lama-lama malah sok ga tau diri untuk menistakan satu sama lainnya.
Kak toska, Bang dok...
Sebaris kata tanpa makna tak mengartikan apa-apa ini, aku rangkai dengan sejuta tawa tanpa haru tak berkepanjangan untuk kalian wahai patetik 1 dan 2.
Terima kasih tak terhingga tiada tara atas peresmian diriku ini sabagai anggota baru dalam persaudaraan patetik club ini.
Aku (patetik 3) mengucap syukur untuk hadirnya kalian dalam meramaikan kepolosanku untuk menceritakan hal-hal yg dianggap tabu dan layak untuk diperbincangkan.
Kiranya aku hanya seorang anak manis (dilarang protes) yg suka mengganggu kalian tanpa peduli kondisi badan dan nasib dompet kalian masing-masing. Kalian kakak dan abang yg baik hati yg selalu mendengarkan cerita-ceritaku yg ga penting namun patut untuk didengar (semoga).
Habis kata untuk kupamerkan kepada kalian bahwa ini adalah rasa bahagiaku. Mengenal dunia tanpa beban dan bicara seenak jidat bersama kalian adalah saat-saat dimana aku puas untuk tidak mengenal persahatan nyata. Terkontaminasi akan kenakalan anak yg tidak pantas dianggap remaja lagi dari kalian berdua ku tangkap dengan cepat melesat tanpa penuh rasa penyesalan.
Doaku baris berbaris untuk kalian, bersamaan dengan tangan-tangan 3 patetik yg menari-nari bebas tak terarah saat kita saling hina kurang kerjaan lalu tertawa kurang maknyoss tanpa bantuan emoticon yg sebenarnya tidak lebih lucu dari aku.
Sekian dan terima kembalian untuk coretan sukasukague ini. Bacalah saat kalian berdua sedang sibuk dengan urusan dunia lalu ingatlah daku kau ku tangkap, #lho?

Semoga bermanfaat, salam mesra untuk patetik 1 & 2.

Saturday, January 29, 2011

Pengusik Hati



Berlalu memang caraku menyembunyikan gelisah.
Ada baiknya pikir mereka yang serba salah masalah sikap yang tak lagi sama.
Banyak kata tersusun rapi tanpa makna yang tidak kau tangap atas maksudku, kini kau melempar sederet kalimat jelas bercerita antara hati yang menggebu padanya.
Adakah bertutur rindu yang tak lagi sopan ini tertuju padamu? sacara nyata dan tersentuh oleh batin, aku menunggu kau yang meraih sendiri.
Berarak langkahku melambat, sekiranya hasrat ingin kau menghentikan.
Beri aku kuasa atas hatimu. Bisakah kau mendengar berontak bibirku?
Kini garis-garis seretan langkahku terhapus bersama hujan yang menghampiri.
Aku terduduk di satu hati yang telah memilih siapa pemilik hatinya. Tersungkur merasa dikhianati atas patri yang tak pernah terucap.
Aku kalah...
Ku cari genggaman lain tapi tiada yang hangat milikmu kutemui.
Ku pamerkan setengah hati yang lain, pada mereka yang datang membawa sebaris senyum murni.
Ku jalani sepetak ruas tak bernapas demi padamu memberi kebebasan atas ini.
Tapi nyatanya aku hanya mampu bermimpi atas pegangan yang kau beri, tanpa aku berkata pasti atas ikhlasnhya aku jalan sendiri.

Seluas langit terpandang tanpa beban,
adalah cerita kita bersama tanpa label kasih dan sayang.

Wednesday, January 19, 2011

Ada Apa Dengan Apa?

Hei, kamu. Adakah cerita ini sebenarnya ingin kau selesaikan, atau lalu kau lempar pada pemeran lain?
Tahukah?,tadi aku baru saja kembali menyusuri jalan masa lalu.
Ada bagian yang masih menyisakan tawa sebenarnya. Terlepas kini hanya ada ombak menggulung, menghajar tepian rasa antara hati yang tak lagi berjabat mesra.
Ini masalah pertanyaan yang lalu yang tak terjawab sempurna. Atau kau merasa aku salah orang untuk menanyakan ini?
Di mana rasa rindu yang bergemuruh memburu itu kini kau tujukan?
Bukan, aku tak meminta kewajibanmu menjawab atas pertanyaan ini. Semua hanya soal kita. Tidak dia, apalagi mereka dan juga semua orang.
Jalanan ini terlalu sepi kukira untuk malam yang masih balita untuk merasa gelap gulita. Apa yang terpandang dari sudut saat bersama, saat semua terbagi apa adanya?
Lihat, racauan makhluk penguasa malam juga sekarang tak lagi kudengar merdu. Aku hanya sedang sibuk dengan semua pertanyaanku, yang terus membisingkan kepala, melajur menggerogoti pikiran yang sedang jalan di tempat.
Apa apa dengan apa? ada hilangnya cerita kita meredup memutus tali yang dulu terpatri.
Kau pasti bingung. Ya, aku sendiri juga sedang tak konsentrasi dengan tulisanku ini.
Jari-jemari ini akan terus mengukir tak pasti seperti yang sekarang kau ajarkan.
Hai, aku dilema. Aku bimbang atas pilihan waras atau setengah gila atas celoteh yang tak lagi terarah.
Satu yang harus & pasti. Suara senandung lucu, itu yang aku rindu.
Imajinasiku...