
Hai apa kabar?
Wah, masih ada uang jajan?
Aiiiihhhh, pacar baru kamu siapa sekaranggggggggg?????
Itu bukan kalimat pembuka. Itu teriakkan yang tidak menembus batas kaca.
Tidak banyak yang dikatakan dalam beberapa kurun waktu, lalu tanpa celah itu semua bisa terbuang dari sini.
Nyatanya kalimat "Aku kangen kamu" lebih sering aku ucapkan padanya daripada sama pacar sendiri.
Dia siapa? Apa derajatnya?
Diam!
Jangan banyak tanya kalau kalian belum paham soal pola bercanda. Kami hanya dua. Berada pada bagian paling penting dalam menempatkan posisi masing-masing.
Lebih dari semua kata cinta yang membuatmu gila, kami adalah dua yang terperangkap dalam layar datar. Terjebak dalam rasa rindu yang merusak cara bicara, menekan bathin setiap punya masalah dan tidak bisa terungkap pada mereka.
Apa kelebihannya?
Tutup mulutmu!
Ini tentang apa yang belum mampu kalian terima soal sebenarnya dari kekurangannya yang nyata itu aku merekam yang lebih baik.
Kami dua, terhimpit dalam jarak yang begitu nista, merantai bagai jalur yang tak tentu arah. Bercabang.
Tapi ini kami, dua.
Sayang yang kami lebihkan untuk kami masing-masing yang lebih dari sekedar bisa mengerti.
Semua akan terekam, layar datar sebagai saksi media bungkam.
Peluk itu memang tidak menembus kaca, makian tawa itu memang tidak berakhir dengan jitak kepala, tangis itu memang tidak akan ada yang menyeka dalam nyata.
Tapi semua dekat, semua lebih melekat.
Kami adalah dua,
yang bertanda tangan di depan layar kaca, akibat jarak yang begitu nista.
(NB: ditulis untuk sahabat saya, Grace Widya Manroe)























