Friday, August 26, 2011

Meninggalkan Jejak Dengan Jarak


Tadinya begini, aku (sudah) menganggap yang pantas dianggap itu menjadi sebuah ikatan. Tanpa basa-basi, tidak pula dengan kata pengantar.
Tadinya memang begini, berjalan dengan arusnya, tanpa sisa-sisa hujan. Licin.
Seharusnya memang begitu, saat aku masih berada di lajur yang sama dengan kendaraan yang berpacu dengan santainya. Lalu perlahan aku terhenti, di pertigaan.
Siapa yang menyangka aku akan menyeret langkah. Berat, serat, pekat, dan berbahaya.
Aku mendengarkan mereka yang berlompa dengan kecepatan dipaksaan. Mengharapkan sebuah medali dari arena perjuangan sampah. Pura-pura dan palsu kiranya rupa.
Berlari dan mengejar...
Kuharap semua tenang. Aku masih santai di belakang.
Menertawakan pergerakan cepat perputaran kembang-kembang waktu. Mengikik tertahan pada yang akan mengusahakan diri dari bukan pribadi luhur.
Jejak-jejak berdikari...
Aku pikir aku masih manusia. Yang berpikir jauh ke dalam sebuah kerangka. Aku pikir begitu saja.
Mengingat yang telah mereka tawarkan. Menelaah yang sedang mereka bicarakan.
Aku telah membawanya sejauh itu dan telah ditinggalkan sejauh ini.
Aku masih diam,
Dan berputar...
Menarik jejak-jejak dengan jarak yang menertawakan
Sejauh apa dia dan mereka paham akan pola-pola kebohongan yang sedang dijalankan.
Selamat...









Thursday, August 18, 2011

Antar aku ke mana?


" Aku tahu kamu pasti bisa ngertiin aku."

Kalimat itu sudah lima kali terucap dari bibirnya sejak satu jam kami duduk di cafe ini. Aku masih saja diam. Semua sebenarnya memang sudah jelas, tapi dia masih saja barusaha (lagi) menjelaskan semuanya dari awal. Katanya aku belum paham.

"Kamu pernah bilang hidup itu pilihan. Pilih apa kata hati jangan apa kata orang. Dan aku sedang menerapkannya sekarang."

Itu memang benar. Tapi dia lupa bahwa dalam sebuah pilihan, menyakiti hati orang lain seharusnya tidak termasuk di dalamnya. Dia juga lupa, bahwa masalah hati juga tidak bisa diajak diskusi. Sekarang maunya siapa yang harus diikuti? Tidak semua pilihan yang benar itu baik kan? Terutaman dalam hubungan ini. Hubungan kami.

"Aku tahu kalau kamu belum bisa nerima ini semua. Tapi aku kenal baik kamu, kamu orang yang selalu penuh pertimbangan, apalagi untuk kebaikan bersama."

Kali ini ucapannya dibarengi dengan memegang tanganku. Erat sekali. Aku tahu dia sungguh-sungguh. Itu makanya aku yakini pilihanku bersamanya selama tiga tahun belakangan ini. Tapi ini benar-benar sulit. Dia memintaku untuk hal yang aku sendiri tidak pernah berpikir untuk melakukannya. Apalagi untuknya, untuk dia yang telah aku pilih untuk berjalan disampingku, nanti.

"Dia baik, kamu baik, aku kenal baik kalian. Bisa demi aku?"

Ini pertanyaan yang sangat menjebak buatku. Demi? Dia pikir yang sudah aku lalukan selama ini apa kalau bukan DEMI? Iya, benar. Aku selalu demi dia, sekarang dia demikian.

"Sayang, tolong. Aku nggak bisa nolak permintaannya. Dia nggak pernah tahu hubungan kita selama ini. Aku juga nggak pernah cerita. Tapi waktu dia bilang dia suka dan sayang sama kamu aku nggak bisa berbuat apa-apa. Dia bilang dia akan melakukan apapun untuk kamu, bahkan dia kenal kamu duluan daripada aku kan? Aku juga baru tahu kalau sosok perempuan yang dia ceritain selama ini, itu kamu. Aku bisa apa? Dia temen aku. Nggak bisa aku korbanin dia."

Kalimat terakhir darinya itu sudah cukup. Aku rasa pertemuan ini harus disudahi, dia terlalu dangkal mikirnya. Atau aku yang terlalu jauh memahaminya?
Aku beranjak dari tempat dudukku, membawa kakiku pergi menjauhinya. Tepat setelah aku memutar arah, dia menarik tanganku.

"Aku yang antar kamu pulang!"
"Kamu bahkan telah meninggalkanku di sini. Bagaimana mungkin kamu mengantar aku?"

Kalimat pertama dan terakhir yang kuucapkan. Perlahan genggaman tangannya merenggang.
Dia benar-benar melepasku.

















Tuesday, August 16, 2011

...

Ingin rasanya saya nangis sejadi-jadinya
Hari ini,
Iya hari ini...

Karena Dia Milik Kita, INDONESIA



Kita sama
Berpijak di tanah yang sama, lahir di tanah yang sama
Kita sama
Tumbuh dalam air kehidupan yang sama, dewasa dalam ruang yang sama
Kita sama
Berada dalam rumah yang sama, berada dalam derajat yang sama

Indonesia Tanah Air Betah...

Ada yang membedakan
Beberapa dari kalian bilang ini neraka
Ada yang membedakan
Beberapa dari kalian bilang ini terbelakang
Ada yang membedakan
Beberapa dari kalian bilang ini tak pernah merdeka

Pusaka Abadi Nan Jaya


Lalu semua bergerak searah
Kita akhirnya bersuara sama
Meneriakkan kata yang seharusnya dari dulu terdengar nyata
Bukan hanya hari ini, kemarin atau yang lalu
Saat dia (masih) bukan milik kita.

Indonesia Sejak Dulu Kala, Tetap Dipuja-puja Bangsa
Di Sana Tempat Lahir Betah, Dibuai Dibesarkan Bunda



Ini harinya
Di mana dia dibesarkan
Ini harinya
Di mana dia telah telah dewasa
Ini harinya
Di mana seharusnya dia (harus tetap) dihargai
Ini harinya
Di mana dia tetap dia
INDONESIA...

Tempat Berlindung Di hari Tua, Tempat Akhir Menutup Mata





Karena apapun dan siapapun dia
Karena di mana dan bagaimanapun dia
Karena biar semiskin-miskinnya dia
Dia tetap dia, dia milik kita
Negaraku,
-INDONESIA


Indonesia Ibu Pertiwi, Kau Kupuja Kau Kukasihi, Tenagaku Bahkan Pun Jiwaku, Kepadamu Rela Kuberi


Merdeka.
Merdeka..
Merdeka...
66 Tahun Dirgahayu Indonesiaku.

:)


Monday, August 15, 2011

Sebut Saja, Cinta...


Ini bagian vital yang akan dibicarakan. Tadinya begini, rasa bagaimana yang menurutmu nyaman? Kekurangan yang bagaimana yang akan terhapuskan? Perlakuan apa akan terasa berlebihan? Semuanya bahagia, dengan caranya masing-masing, dengan kesederhaannya sendiri-sendiri.
Sebut saja, cinta. Dia siapa? Apa hak-nya? Bukan itu fokusnya.
Aku terlalu jauh mencoba mengerti semua apa yg diinginkan. Tapi hati ini yang tak mau mengerti. Tahu apa kamu soal rasa kasih sayang? Sampai sekarang saja kau tak pernah paham maksudku.
Sebut saja, cinta. Apa yang harus diungkapkan? Bagaimana caranya?
Semua yang baik pasti akan terikuti. Hatimu menunjukmu, kamu menoleh ke belakang. Dilemparkah? Atau arahnya yg meleset dan kau biarkan melesat?
Sebut saja, cinta. Diamnya untuk kebaikan bersama. Rasanya untuk yang merasakannya. Aku terbiasa menyimpan senyummu dibalik meja. Kulihat diam-diam saat kau berkelana. Entah kemana.
Sebut saja, cinta. Ini terlalu frontal, tapi apa mau dikata aku terlanjur merasa dan dia tahu namun seolah membiarkannya binasa. Bagaimana akhirnya?
Kamu memeluk dirinya lalu erat menggengam tanganku dari balik kejadian itu.
Kata seorang teman, nikmati saja. Aku tak bisa berkata, kini giliran kau yang memendam rasa. Apa ini salah?
Sebut saja, cinta. Kita terbiasa bersama dalam segala peristiwa, dan kini aku yang tak biasa karena tanpa judul di dalamnya. Boleh kau melepasnya? Aku yang mengenalmu lama. Bisa kau menyanyanginya? Kita yang terlanjur tak bisa dipisah. Bagaimana aku bilang soal cinta? Sekarang kau berada dalam ikatan. Kenapa kau tak membiarkanku keluar? Menjelma jadi apa saja demi aku, dan kau biarkan dia demikian.
Sebut saja, cinta.
Aku habis kata-kata....

Thursday, August 11, 2011

Kok Curhat? Kok poniiiiiiii?

Semuanya harus pake awalnya biar kerenan dikit. Seperti pada suatu hari, aku.... dan seterusnya dan selanjutnya serta kemudian. Oke, cukup.
Awalnya aku berniat membuat blog ini sabagai wadah penipuan publik. Iya, dengan segala isinya yang (sok) puitis mampus kecampur pengetahuan yang sok banget soal merangkai kata dan menjahit huruf-huruf #hallah. Intinya cuma satu, aku cuma ingin didengar waktu aku ngomomg, cuma mau dibaca kalo lagi nulis. Nggak butuh dimengerti dan memang nggak ingin dipahami. Semuanya ya.. ya itu, apa yang aku tulis, aku selalu berharap apa yang mereka pikirkan berbeda dengan apa apa yang aku ceritakan. Kalian paham? Aku harap begitu. Soalnya menyusun kalimat ini saja aku sendiri kesulitan apa maksud dan tujuanya.
Cukup perdebatan soal ini. Jangan mengharapkan penjelasan lebih soal berubahnya alur blog ini. Semuanya butuh perubahan, seluruhnya harus merdeka. Iya merdeka=bebas=suka-suka hati. Sudah sampai di situ saja.

Aku selalu berpikir, saat kita mau berubah ( ke arah yang lebih baik) kenapa banyak yang mempertanyakan? Kaidahnya gini, setiap orang tahu apa yang yang terbaikk untuk dirinya sendiri. Contohnya ada orang yang mau diri, waktu kita bilang itu pilihan yang salah, lalu yang benarnya juga kita nggak pernah bisa bantu dia kan? Kita cuma bisa bilang 'jangan', sudah gitu aja. Lalu salahnya di mana? Nggak ada. Semua cuma butuh pemikiran yang positif dan nggak perlu ngurusin urusan orang lain.
Ini memang makin ngawur. Tapi aku cuma mau ngajak mikir aja kok. Mikir...mikir..mikir..tidur (?)
Cuma ada pesan dan kesan yang mau aku bilang, jangan ngerasa (sok) berhak atas jalan hidup orang lain. Kamu baik karena yang kamu ingat dari dirimu sendiri itu ya cuma kebaikanmu aja. Jadi lupakan soal menghakimi karakter orang lain dan belajarnya menerima kodratmu sebaik mungkin. Kita semua sama-sama paham, bahwa kita sama-sama tidak mau diganggu jadi tutuplah mulutmu itu.
Boss...

Wednesday, August 10, 2011

Garis Besar

Kamu ada di dekatnya, tapi mengenggam tanganku
Kamu yang bersamanya, tapi tak pernah jauh dariku
Ini pertanyaan atau pernyataan?
Beberapa garis yang mereka bilang jalannya, aku tak melihat lurusnya
Banyak garis yang mereka tawarkan, tak berminat di mataku
Dia itu siapa?
Aku ini siapa?
Siapa yang pantas dipertanyakan saat bergandengan tangan denganmu?
Semua sia-sia
Semua tak berguna
Semua hanya sampah

Kamu membiarkan dirinya masuk dan menahanku untuk jangan keluar
Apa yang salah?
Egokah?
Rasakah?
Keadaankah?
Berpaling namun tetap menoleh padaku
Maunya siapa yang harus diikuti?
Ini bergaris-garis dan berpola-pola pertanyaannya
Siapa yang mampu menjawab?
Katanya biarkan mengalir
Hikmahnya harus aku syukuri
Tapi jiwa-jiwa yang merasa salah, menghadang apa yg sedang aku nikmati

Terimakasih,
Besar....