Tadinya begini, aku (sudah) menganggap yang pantas dianggap itu menjadi sebuah ikatan. Tanpa basa-basi, tidak pula dengan kata pengantar.
Tadinya memang begini, berjalan dengan arusnya, tanpa sisa-sisa hujan. Licin.
Seharusnya memang begitu, saat aku masih berada di lajur yang sama dengan kendaraan yang berpacu dengan santainya. Lalu perlahan aku terhenti, di pertigaan.
Siapa yang menyangka aku akan menyeret langkah. Berat, serat, pekat, dan berbahaya.
Aku mendengarkan mereka yang berlompa dengan kecepatan dipaksaan. Mengharapkan sebuah medali dari arena perjuangan sampah. Pura-pura dan palsu kiranya rupa.
Berlari dan mengejar...
Kuharap semua tenang. Aku masih santai di belakang.
Menertawakan pergerakan cepat perputaran kembang-kembang waktu. Mengikik tertahan pada yang akan mengusahakan diri dari bukan pribadi luhur.
Jejak-jejak berdikari...
Aku pikir aku masih manusia. Yang berpikir jauh ke dalam sebuah kerangka. Aku pikir begitu saja.
Mengingat yang telah mereka tawarkan. Menelaah yang sedang mereka bicarakan.
Aku telah membawanya sejauh itu dan telah ditinggalkan sejauh ini.
Aku masih diam,
Dan berputar...
Menarik jejak-jejak dengan jarak yang menertawakan
Sejauh apa dia dan mereka paham akan pola-pola kebohongan yang sedang dijalankan.
Selamat...
No comments:
Post a Comment