Monday, August 15, 2011

Sebut Saja, Cinta...


Ini bagian vital yang akan dibicarakan. Tadinya begini, rasa bagaimana yang menurutmu nyaman? Kekurangan yang bagaimana yang akan terhapuskan? Perlakuan apa akan terasa berlebihan? Semuanya bahagia, dengan caranya masing-masing, dengan kesederhaannya sendiri-sendiri.
Sebut saja, cinta. Dia siapa? Apa hak-nya? Bukan itu fokusnya.
Aku terlalu jauh mencoba mengerti semua apa yg diinginkan. Tapi hati ini yang tak mau mengerti. Tahu apa kamu soal rasa kasih sayang? Sampai sekarang saja kau tak pernah paham maksudku.
Sebut saja, cinta. Apa yang harus diungkapkan? Bagaimana caranya?
Semua yang baik pasti akan terikuti. Hatimu menunjukmu, kamu menoleh ke belakang. Dilemparkah? Atau arahnya yg meleset dan kau biarkan melesat?
Sebut saja, cinta. Diamnya untuk kebaikan bersama. Rasanya untuk yang merasakannya. Aku terbiasa menyimpan senyummu dibalik meja. Kulihat diam-diam saat kau berkelana. Entah kemana.
Sebut saja, cinta. Ini terlalu frontal, tapi apa mau dikata aku terlanjur merasa dan dia tahu namun seolah membiarkannya binasa. Bagaimana akhirnya?
Kamu memeluk dirinya lalu erat menggengam tanganku dari balik kejadian itu.
Kata seorang teman, nikmati saja. Aku tak bisa berkata, kini giliran kau yang memendam rasa. Apa ini salah?
Sebut saja, cinta. Kita terbiasa bersama dalam segala peristiwa, dan kini aku yang tak biasa karena tanpa judul di dalamnya. Boleh kau melepasnya? Aku yang mengenalmu lama. Bisa kau menyanyanginya? Kita yang terlanjur tak bisa dipisah. Bagaimana aku bilang soal cinta? Sekarang kau berada dalam ikatan. Kenapa kau tak membiarkanku keluar? Menjelma jadi apa saja demi aku, dan kau biarkan dia demikian.
Sebut saja, cinta.
Aku habis kata-kata....

No comments:

Post a Comment