Saturday, January 29, 2011

Pengusik Hati



Berlalu memang caraku menyembunyikan gelisah.
Ada baiknya pikir mereka yang serba salah masalah sikap yang tak lagi sama.
Banyak kata tersusun rapi tanpa makna yang tidak kau tangap atas maksudku, kini kau melempar sederet kalimat jelas bercerita antara hati yang menggebu padanya.
Adakah bertutur rindu yang tak lagi sopan ini tertuju padamu? sacara nyata dan tersentuh oleh batin, aku menunggu kau yang meraih sendiri.
Berarak langkahku melambat, sekiranya hasrat ingin kau menghentikan.
Beri aku kuasa atas hatimu. Bisakah kau mendengar berontak bibirku?
Kini garis-garis seretan langkahku terhapus bersama hujan yang menghampiri.
Aku terduduk di satu hati yang telah memilih siapa pemilik hatinya. Tersungkur merasa dikhianati atas patri yang tak pernah terucap.
Aku kalah...
Ku cari genggaman lain tapi tiada yang hangat milikmu kutemui.
Ku pamerkan setengah hati yang lain, pada mereka yang datang membawa sebaris senyum murni.
Ku jalani sepetak ruas tak bernapas demi padamu memberi kebebasan atas ini.
Tapi nyatanya aku hanya mampu bermimpi atas pegangan yang kau beri, tanpa aku berkata pasti atas ikhlasnhya aku jalan sendiri.

Seluas langit terpandang tanpa beban,
adalah cerita kita bersama tanpa label kasih dan sayang.

Wednesday, January 19, 2011

Ada Apa Dengan Apa?

Hei, kamu. Adakah cerita ini sebenarnya ingin kau selesaikan, atau lalu kau lempar pada pemeran lain?
Tahukah?,tadi aku baru saja kembali menyusuri jalan masa lalu.
Ada bagian yang masih menyisakan tawa sebenarnya. Terlepas kini hanya ada ombak menggulung, menghajar tepian rasa antara hati yang tak lagi berjabat mesra.
Ini masalah pertanyaan yang lalu yang tak terjawab sempurna. Atau kau merasa aku salah orang untuk menanyakan ini?
Di mana rasa rindu yang bergemuruh memburu itu kini kau tujukan?
Bukan, aku tak meminta kewajibanmu menjawab atas pertanyaan ini. Semua hanya soal kita. Tidak dia, apalagi mereka dan juga semua orang.
Jalanan ini terlalu sepi kukira untuk malam yang masih balita untuk merasa gelap gulita. Apa yang terpandang dari sudut saat bersama, saat semua terbagi apa adanya?
Lihat, racauan makhluk penguasa malam juga sekarang tak lagi kudengar merdu. Aku hanya sedang sibuk dengan semua pertanyaanku, yang terus membisingkan kepala, melajur menggerogoti pikiran yang sedang jalan di tempat.
Apa apa dengan apa? ada hilangnya cerita kita meredup memutus tali yang dulu terpatri.
Kau pasti bingung. Ya, aku sendiri juga sedang tak konsentrasi dengan tulisanku ini.
Jari-jemari ini akan terus mengukir tak pasti seperti yang sekarang kau ajarkan.
Hai, aku dilema. Aku bimbang atas pilihan waras atau setengah gila atas celoteh yang tak lagi terarah.
Satu yang harus & pasti. Suara senandung lucu, itu yang aku rindu.
Imajinasiku...