
Berlalu memang caraku menyembunyikan gelisah.
Ada baiknya pikir mereka yang serba salah masalah sikap yang tak lagi sama.
Banyak kata tersusun rapi tanpa makna yang tidak kau tangap atas maksudku, kini kau melempar sederet kalimat jelas bercerita antara hati yang menggebu padanya.
Adakah bertutur rindu yang tak lagi sopan ini tertuju padamu? sacara nyata dan tersentuh oleh batin, aku menunggu kau yang meraih sendiri.
Berarak langkahku melambat, sekiranya hasrat ingin kau menghentikan.
Beri aku kuasa atas hatimu. Bisakah kau mendengar berontak bibirku?
Kini garis-garis seretan langkahku terhapus bersama hujan yang menghampiri.
Aku terduduk di satu hati yang telah memilih siapa pemilik hatinya. Tersungkur merasa dikhianati atas patri yang tak pernah terucap.
Aku kalah...
Ku cari genggaman lain tapi tiada yang hangat milikmu kutemui.
Ku pamerkan setengah hati yang lain, pada mereka yang datang membawa sebaris senyum murni.
Ku jalani sepetak ruas tak bernapas demi padamu memberi kebebasan atas ini.
Tapi nyatanya aku hanya mampu bermimpi atas pegangan yang kau beri, tanpa aku berkata pasti atas ikhlasnhya aku jalan sendiri.
Seluas langit terpandang tanpa beban,
adalah cerita kita bersama tanpa label kasih dan sayang.