Tuesday, October 2, 2012
Dear, Aksara
Kamu tahu harapan itu sebesar apa? Tak terjangkau dengan bukti sama seperti keyakinan.
Dear, Aksara
Apa kabar? Tidakkah kau bosan dengan sepi di sekitarmu? Hening itu tercipta, di antara ranjang kecil dan kursi-kursi di sampingmu. Apa yang membawamu hingga sampai pada peraduan lelap? Dengan aba-aba sederhana, kau berlalu cepat. Untuk sesaat.
Garis wajahmu mengalir sampai muara lubuk, menekan kuat pada tiap-tiap harapan yang tergenggam diam-diam. Kamu adalah sebagian jiwaku yang terbawa entah ke mana. Lenyap, untuk sesaat.
Dear, Aksara
Permah sehalus suaramu membuatku merasa memiliki surga, kuangkat tinggi-tinggi ragamu ke udara, kita tertawa karena sama-sama bahagia. Lalu di mana akan kucari sisa-sia suara tadi, jika kamu yang membutuhkan tawa, adalah pencipta ceria itu sendiri. Terserap, untuk sesaat.
Penantian selamanya akan tanpa batas. Dengan doa yang mengiringi sampai hadirmu kembali di antara kami.
Pesakitanmu bawalah kemari. Berikan padaku sesekali, lalu hiruplah udara bebas tanpa beban yang menguliti. Aku bersamamu, tidak akan pernah sesaat. Selamanya.
Dear, Aksara
Cepatlah membuka mata, angkat wajahmu lalu tersenyumlah bahagia.
Get well soon, Aksara.
Love...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment