Thursday, January 19, 2012

Macet

Ini mungkin fenomena alam? Atau dijadikan alam? Tidak ada gambaran-gambaran berwarna di sana. Tapi yang pasti satu warna ada dalam setiap jiwa-jiwa yang merana.
Tadinya akan dibinasakan, atau hanya alasan untuk pengambilan nama belakang?
Tidak ada pengaruh di sana, tidak ada suara di sana, tidak ada pilihan di sana.
Tunggu atau tidak melangkah?
Itu alur tragis bagi tokoh yang pantang menyerah.

Wednesday, January 18, 2012

Syukurannya di Toronto, Kan? (#30HariMenulisSuratCinta3)

Assallamualaikum
Hallo,
Kamu siapa sih? *diketekin*

Ini surat cinta atau kolam lele? Ah, kamu memang lucu. Bukan, kita bukan lagi membahas cowok-cowok yang berponi kok.
Baiklah, karena ini judulnya surat cinta, maka aku akan panggil kamu adek(?) *diinjek-injek*
Kepada kamu, kakak yang belum diresmikan secara adat untuk menjadi kakakku. *lo kata acara kawinan, Ri pake adat?*
Kamu tahu, ada banyak cerita yang ingin aku bagikan padamu. Meminta banyak nasihat darimu tentang diriku yang terlalu tidak paham dan tahu. Entah diawali dengan apa, aku jadi terbiasa tenang saat kau yang bicara memberi nasihat untukku.Kamu yang memarahiku dengan galaknya, saat aku nggak mau ke dokter atau minum obat, lalu aku yang malah ketawa-ketawa. :D
Kamu itu sebenarnya siapa sih? Tiba-tiba muncul di depanku dengan segala kesabaran memakhlumi semua tingkahku, mendengarkan semua cerita2ku yang sangat nggak penting, dan selalu menggangmu saat kamu sedang di kantor. Maaf ya, kak.
Sumpah ya, ini surat cinta apa bukan sih? Hahahah
Kak, aku tulis surat ini untuk mengucap banyak terima kasih karena kamu telah jadi teman dan kakak yang baik. Kamu sudah menjadi kakak perempuan yg selama ini aku butuhkan. Bisa mengerti apa yg aku rasakan, tentang kebingungan dan kebodohanku.
Terima kasih yaa sudah menerima kehadiranku yang lebih banyak sering mengganggu kamu saat kerja.
Terima kasih telah menjadikan aku adikmu yang terkadang lupa akan kesedihanmu.
Kak, aku tahu kamu sedang susah. Masalah hati memang selalu mencipta gelisah. Tapi aku tahu, kamu pantas mendapat yang terbaik dan diperjuangkan untuk kebaikan. Sabar ya. Tuhan mungkin sedang memilihkan yg terbaik untukmu melalui jalan ini. Apapun keputusan kamu, aku selalu bersamu dan mendukungmu. Jika kamu memang masih menyayanginya, jangan menangkan egomu. Kamu pasti bisa. :)

Sepertinya ini sudah terlalu panjang. Ah, seperti yang kita bilang waktu itu, nanti syukurannya di Toronto kan? Asik peresmian jadi kakak aku. Tenang saja, kita nanti ke sana. Doakan saja ya.
Oh iya, jangan lupa apa yg kuminta. Buatkan aku yang seperti Afika nanti ya. Hahahha
Satu pesan lagi, kamu harus menangkan hatimu di peperangan ini, bukan egomu, kak.
Salam,
Adikmu yang belum diresmikan secara adat, yang selalu mendoakanmu.

(Ditulis untuk Irwiena)

Saturday, January 14, 2012

Antara Sebelah & Seberang (#30HariMenulisSuratCinta2)

Untukmu,
Yang terlalu takut kujemput cintanya.

Apa kabar, kamu?
Semoga selalu baik seperti aku yang selalu mendoakanmu baik.

Pertemuan kita yang selalu gelisah, membuat beberapa niatku jadi tertunda. Apa kamu tau soal yang terasa dan berat untuk dilepas? Kamu pasti paham. :)
Aku mengenalmu sudah terlalu lama dan mengenal harapku yang terlalu cepat. Kita baik dalam bersama, belum tentu baik dalam ikatan.
Itu percakapan terakhir kita.
Sekarang setelah kamu berjalan, kenapa seperti ada yang tersesal? Maaf, aku hanya sedang gelisah soal kasih sayang. Aku tahu kamu tidak memaksa, jelas memang aku yang tak pandai bicara di depan mata. Mata yang selalu kulihat penuh dengan ketulusan.
Maaf, untuk semua cinta yang harus tetap terpendam.
Maaf, untuk langkah yang harus tetap tertahan.
Maaf, untuk cintamu yang memang belum waktunya kubalas.
Di seberang sana, ada penantian yang harus tetap kujaga
Dan di sebelah sini, ada genggaman yang akan tetap kuusahakan.

Semoga kamu mengerti surat ini
Salam,
Orang yang (mungkin) menunggu ketepatan waktu

Friday, January 13, 2012

Kepada Yang Kutanya, Hatiku (#30HariMenulisSuratCinta 1)

Hei,kita sudah kenal lama kan? Bisa kita bicara?
Aku tidak menuntutmu banyak. Aku hanya ingin satu keharusan yang tepat. Dan itu harus pilihanmu. Bagaimana?
Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik di sini. Aku yakin kamu tahu apa yang harus kamu tetapkan untuk sebuah kebaikan. Tapi kenapa semua yang baik belum tentu dipentingkan? Aku tanya ini padamu!
Belakangan aku perhatikan kamu mulai tidak tegas. Kenapa begitu? Aku maunya dia yang sudah lama ada padamu. Kenapa kamu tidak membantu aku untuk memberitahunya?
Kamu pikir kamu siapa berani-beraninya menyimpan dia begitu lama dalam dirimu?
Hei, hati. Kamu harus jawab ini segera!
Sudah berapa kali aku bilang, bahwa aku harus mengikuti apa katamu. Tapi kamu malah menyuruhku untuk mengikuti kata orang. Ini menyiksakku dan menyakitimu. Jangan sombong!
Sudah berapa kali aku bilang, kamu itu bukan sampah yang bisa dipungut kapan saja saat dirasa cukup punya manfaat! Kamu harus tegas pada apa yang kamu rasakan dan cepat katakan!
Aku percaya kita masih teman baik. Jadi jangan kamu simpan lagi dia terlalu lama dalam genggamanmu. Itu terlalu egois jika kamu hanya menikmatinya sendiri tanpa memberitahu orang lain, bahkan dia.

Aku tulis ini sebagai permintaanku yang terbesar, untuk kamu berani mengeluarkan dia dari dirimu, hatiku.
Kamu pasti bisa.

Salam, cinta.

#30HariMenulisSuratCinta 1