Tuesday, October 2, 2012
Dear, Aksara
Kamu tahu harapan itu sebesar apa? Tak terjangkau dengan bukti sama seperti keyakinan.
Dear, Aksara
Apa kabar? Tidakkah kau bosan dengan sepi di sekitarmu? Hening itu tercipta, di antara ranjang kecil dan kursi-kursi di sampingmu. Apa yang membawamu hingga sampai pada peraduan lelap? Dengan aba-aba sederhana, kau berlalu cepat. Untuk sesaat.
Garis wajahmu mengalir sampai muara lubuk, menekan kuat pada tiap-tiap harapan yang tergenggam diam-diam. Kamu adalah sebagian jiwaku yang terbawa entah ke mana. Lenyap, untuk sesaat.
Dear, Aksara
Permah sehalus suaramu membuatku merasa memiliki surga, kuangkat tinggi-tinggi ragamu ke udara, kita tertawa karena sama-sama bahagia. Lalu di mana akan kucari sisa-sia suara tadi, jika kamu yang membutuhkan tawa, adalah pencipta ceria itu sendiri. Terserap, untuk sesaat.
Penantian selamanya akan tanpa batas. Dengan doa yang mengiringi sampai hadirmu kembali di antara kami.
Pesakitanmu bawalah kemari. Berikan padaku sesekali, lalu hiruplah udara bebas tanpa beban yang menguliti. Aku bersamamu, tidak akan pernah sesaat. Selamanya.
Dear, Aksara
Cepatlah membuka mata, angkat wajahmu lalu tersenyumlah bahagia.
Get well soon, Aksara.
Love...
Monday, July 9, 2012
Saat Bukan Lagi Aku
Kadang yang menjadikanmu ada itu belum tentu nyata
Saat aku kembali menatap dan tiada kamu yang pertama kulihat
Apa maksud dari hidup yang sebenar-benarnya adalah perjuangan? Saat aku berdiri dengan cara yang sama, mempertahankan, sampai harus terpaksa dikalahkan.
Ketika ini semakin mendasar, dan aku yang hanya bisa tergulung di gelombang tak beraturan
Bernapas, aku harus ingat untuk bernapas
Dan kali ini cinta yang diagungkan, sama terseretnya sampai ke tengah lautan. Hilang jangkauan, indah ditertawakan dari kejauhan.
Kepada kamu, kamu, dan kamu
Ingin, harap, dan sekitar. Akan ada waktunya, kita bersamaan saling mendewasakan
Tapi itu masih nanti, dan sekarang aku masih sangat menikmati disakiti. Membiarkannya sampai pada titik tertinggi, lalu hilang.
Kemudian kamu tidak lagi akan datang, lalu aku masih pada posisi tidak bergerak, terbentang
Bernapas, aku harus ingat untuk bernapas
Sampai semuanya akan merapuh, dan tiada lagi aku yang mempedulikanmu
Bernapas, aku masih harus ingat untuk bernapas
Saat aku kembali menatap dan tiada kamu yang pertama kulihat
Apa maksud dari hidup yang sebenar-benarnya adalah perjuangan? Saat aku berdiri dengan cara yang sama, mempertahankan, sampai harus terpaksa dikalahkan.
Ketika ini semakin mendasar, dan aku yang hanya bisa tergulung di gelombang tak beraturan
Bernapas, aku harus ingat untuk bernapas
Dan kali ini cinta yang diagungkan, sama terseretnya sampai ke tengah lautan. Hilang jangkauan, indah ditertawakan dari kejauhan.
Kepada kamu, kamu, dan kamu
Ingin, harap, dan sekitar. Akan ada waktunya, kita bersamaan saling mendewasakan
Tapi itu masih nanti, dan sekarang aku masih sangat menikmati disakiti. Membiarkannya sampai pada titik tertinggi, lalu hilang.
Kemudian kamu tidak lagi akan datang, lalu aku masih pada posisi tidak bergerak, terbentang
Bernapas, aku harus ingat untuk bernapas
Sampai semuanya akan merapuh, dan tiada lagi aku yang mempedulikanmu
Bernapas, aku masih harus ingat untuk bernapas
Saturday, July 7, 2012
Cerita Dari Dalam
Aku tidak lagi aku yang akan terus berdiri
Mengambangkan segala mimpi di lelap yang sama sekali hilang kendali
Aku tidak lagi aku yang akan bicara
Memuntahkan keinginan di depan mereka yang sudah jelas bertingkah seperti sampah
Lalu bagaimana dengan aku?
Aku tetaplah aku Aku bukanlah aku
Di setiap gravitasimu yang membawaku, aku tidak lagi mau ikut campur
Perkara kita hanya dinding yang bicara lebih banyak
Memantulkan kembali tiap apa yang kita sebut pengkhiatan
Bahwa aku tetaplah aku, yang bukan aku
Teriaklah pada hujan yang mengendapkan suaramu
Lalu aku tidak akan lagi terjatuh, pada sisanya yang merapuhkan pijakkan tanah
Dan semua masih sama...
Mengambangkan segala mimpi di lelap yang sama sekali hilang kendali
Aku tidak lagi aku yang akan bicara
Memuntahkan keinginan di depan mereka yang sudah jelas bertingkah seperti sampah
Lalu bagaimana dengan aku?
Aku tetaplah aku Aku bukanlah aku
Di setiap gravitasimu yang membawaku, aku tidak lagi mau ikut campur
Perkara kita hanya dinding yang bicara lebih banyak
Memantulkan kembali tiap apa yang kita sebut pengkhiatan
Bahwa aku tetaplah aku, yang bukan aku
Teriaklah pada hujan yang mengendapkan suaramu
Lalu aku tidak akan lagi terjatuh, pada sisanya yang merapuhkan pijakkan tanah
Dan semua masih sama...
Sunday, April 1, 2012
21
Matahari akan tetap sama, membagi cahayanya sama rata ke bumi. Bulan akan tetap sama, bisa dilihat dari sudut mana saja di planet ini.
Itu kamu tidak, 21.
Kamu tidak akan pernah lagi sama, meski kamu berdiri dengan kaki yang sama.
Jadi begini, perubahan itu akan tetap dilakukan mau tidak mau. Kamu paham?
Kamu akan ada di titik paling meyakinkan saat kamu percaya.
Pada dirimu dan pada Tuhanmu.
Kemampuanmu untuk menerima apa saja, itu yang ingin dilihatNya.
Kebaikan, keburukan, kenikmatan, kesusahan, kejujuran, kebohongan, keegoisan, dan keikhlasan.
21, Tuhan selalu memberimu tujuan kepastian. Hanya kamu saja tinggal menentukan jalan.
Kamu pilih mana? Itu terserah. Asal pada akhirnya kamu tahu mana itu tujuan yang harus kamu menangkan.
Keinginan yang lingkungan teriakkan itu, hanya perlu kamu beri senyuman.
Tidak perlu menunjukkan senjata penolakan, kamu hanya perlu tuntun jalan hatimu agar mereka lihat.
Kuberitahu, kelak jika kakimu tak lagi mampu menopang tubuhmu, datanglah padaku.
Berdirilah di kakiku jika itu meringankan bebanmu.
Di sana, usahakan mengerti orang lain. Karena yang jatuh, bukan hanya dirimu. Maka dari itu pergilah itu saling mengulur tangan. Jaga egomu, jangan sampai ia memperbudakmu.
21, Kamu adalah jalan menuju kesempurnaan.
Percayakan semua pada Tuhan
Rendahkan dirimu kepada alam
Bersimpuhla pada yang melahirkan.
Kamu akan menang.
Selamat ulang tahun, Grace Widya Neni Manurung.
:)
Itu kamu tidak, 21.
Kamu tidak akan pernah lagi sama, meski kamu berdiri dengan kaki yang sama.
Jadi begini, perubahan itu akan tetap dilakukan mau tidak mau. Kamu paham?
Kamu akan ada di titik paling meyakinkan saat kamu percaya.
Pada dirimu dan pada Tuhanmu.
Kemampuanmu untuk menerima apa saja, itu yang ingin dilihatNya.
Kebaikan, keburukan, kenikmatan, kesusahan, kejujuran, kebohongan, keegoisan, dan keikhlasan.
21, Tuhan selalu memberimu tujuan kepastian. Hanya kamu saja tinggal menentukan jalan.
Kamu pilih mana? Itu terserah. Asal pada akhirnya kamu tahu mana itu tujuan yang harus kamu menangkan.
Keinginan yang lingkungan teriakkan itu, hanya perlu kamu beri senyuman.
Tidak perlu menunjukkan senjata penolakan, kamu hanya perlu tuntun jalan hatimu agar mereka lihat.
Kuberitahu, kelak jika kakimu tak lagi mampu menopang tubuhmu, datanglah padaku.
Berdirilah di kakiku jika itu meringankan bebanmu.
Di sana, usahakan mengerti orang lain. Karena yang jatuh, bukan hanya dirimu. Maka dari itu pergilah itu saling mengulur tangan. Jaga egomu, jangan sampai ia memperbudakmu.
21, Kamu adalah jalan menuju kesempurnaan.
Percayakan semua pada Tuhan
Rendahkan dirimu kepada alam
Bersimpuhla pada yang melahirkan.
Kamu akan menang.
Selamat ulang tahun, Grace Widya Neni Manurung.
:)
Thursday, January 19, 2012
Macet
Ini mungkin fenomena alam? Atau dijadikan alam? Tidak ada gambaran-gambaran berwarna di sana. Tapi yang pasti satu warna ada dalam setiap jiwa-jiwa yang merana.
Tadinya akan dibinasakan, atau hanya alasan untuk pengambilan nama belakang?
Tidak ada pengaruh di sana, tidak ada suara di sana, tidak ada pilihan di sana.
Tunggu atau tidak melangkah?
Itu alur tragis bagi tokoh yang pantang menyerah.
Tadinya akan dibinasakan, atau hanya alasan untuk pengambilan nama belakang?
Tidak ada pengaruh di sana, tidak ada suara di sana, tidak ada pilihan di sana.
Tunggu atau tidak melangkah?
Itu alur tragis bagi tokoh yang pantang menyerah.
Labels:
Kota Kata
Wednesday, January 18, 2012
Syukurannya di Toronto, Kan? (#30HariMenulisSuratCinta3)
Assallamualaikum
Hallo,
Kamu siapa sih? *diketekin*
Ini surat cinta atau kolam lele? Ah, kamu memang lucu. Bukan, kita bukan lagi membahas cowok-cowok yang berponi kok.
Baiklah, karena ini judulnya surat cinta, maka aku akan panggil kamu adek(?) *diinjek-injek*
Kepada kamu, kakak yang belum diresmikan secara adat untuk menjadi kakakku. *lo kata acara kawinan, Ri pake adat?*
Kamu tahu, ada banyak cerita yang ingin aku bagikan padamu. Meminta banyak nasihat darimu tentang diriku yang terlalu tidak paham dan tahu. Entah diawali dengan apa, aku jadi terbiasa tenang saat kau yang bicara memberi nasihat untukku.Kamu yang memarahiku dengan galaknya, saat aku nggak mau ke dokter atau minum obat, lalu aku yang malah ketawa-ketawa. :D
Kamu itu sebenarnya siapa sih? Tiba-tiba muncul di depanku dengan segala kesabaran memakhlumi semua tingkahku, mendengarkan semua cerita2ku yang sangat nggak penting, dan selalu menggangmu saat kamu sedang di kantor. Maaf ya, kak.
Sumpah ya, ini surat cinta apa bukan sih? Hahahah
Kak, aku tulis surat ini untuk mengucap banyak terima kasih karena kamu telah jadi teman dan kakak yang baik. Kamu sudah menjadi kakak perempuan yg selama ini aku butuhkan. Bisa mengerti apa yg aku rasakan, tentang kebingungan dan kebodohanku.
Terima kasih yaa sudah menerima kehadiranku yang lebih banyak sering mengganggu kamu saat kerja.
Terima kasih telah menjadikan aku adikmu yang terkadang lupa akan kesedihanmu.
Kak, aku tahu kamu sedang susah. Masalah hati memang selalu mencipta gelisah. Tapi aku tahu, kamu pantas mendapat yang terbaik dan diperjuangkan untuk kebaikan. Sabar ya. Tuhan mungkin sedang memilihkan yg terbaik untukmu melalui jalan ini. Apapun keputusan kamu, aku selalu bersamu dan mendukungmu. Jika kamu memang masih menyayanginya, jangan menangkan egomu. Kamu pasti bisa. :)
Sepertinya ini sudah terlalu panjang. Ah, seperti yang kita bilang waktu itu, nanti syukurannya di Toronto kan? Asik peresmian jadi kakak aku. Tenang saja, kita nanti ke sana. Doakan saja ya.
Oh iya, jangan lupa apa yg kuminta. Buatkan aku yang seperti Afika nanti ya. Hahahha
Satu pesan lagi, kamu harus menangkan hatimu di peperangan ini, bukan egomu, kak.
Salam,
Adikmu yang belum diresmikan secara adat, yang selalu mendoakanmu.
(Ditulis untuk Irwiena)
Hallo,
Kamu siapa sih? *diketekin*
Ini surat cinta atau kolam lele? Ah, kamu memang lucu. Bukan, kita bukan lagi membahas cowok-cowok yang berponi kok.
Baiklah, karena ini judulnya surat cinta, maka aku akan panggil kamu adek(?) *diinjek-injek*
Kepada kamu, kakak yang belum diresmikan secara adat untuk menjadi kakakku. *lo kata acara kawinan, Ri pake adat?*
Kamu tahu, ada banyak cerita yang ingin aku bagikan padamu. Meminta banyak nasihat darimu tentang diriku yang terlalu tidak paham dan tahu. Entah diawali dengan apa, aku jadi terbiasa tenang saat kau yang bicara memberi nasihat untukku.Kamu yang memarahiku dengan galaknya, saat aku nggak mau ke dokter atau minum obat, lalu aku yang malah ketawa-ketawa. :D
Kamu itu sebenarnya siapa sih? Tiba-tiba muncul di depanku dengan segala kesabaran memakhlumi semua tingkahku, mendengarkan semua cerita2ku yang sangat nggak penting, dan selalu menggangmu saat kamu sedang di kantor. Maaf ya, kak.
Sumpah ya, ini surat cinta apa bukan sih? Hahahah
Kak, aku tulis surat ini untuk mengucap banyak terima kasih karena kamu telah jadi teman dan kakak yang baik. Kamu sudah menjadi kakak perempuan yg selama ini aku butuhkan. Bisa mengerti apa yg aku rasakan, tentang kebingungan dan kebodohanku.
Terima kasih yaa sudah menerima kehadiranku yang lebih banyak sering mengganggu kamu saat kerja.
Terima kasih telah menjadikan aku adikmu yang terkadang lupa akan kesedihanmu.
Kak, aku tahu kamu sedang susah. Masalah hati memang selalu mencipta gelisah. Tapi aku tahu, kamu pantas mendapat yang terbaik dan diperjuangkan untuk kebaikan. Sabar ya. Tuhan mungkin sedang memilihkan yg terbaik untukmu melalui jalan ini. Apapun keputusan kamu, aku selalu bersamu dan mendukungmu. Jika kamu memang masih menyayanginya, jangan menangkan egomu. Kamu pasti bisa. :)
Sepertinya ini sudah terlalu panjang. Ah, seperti yang kita bilang waktu itu, nanti syukurannya di Toronto kan? Asik peresmian jadi kakak aku. Tenang saja, kita nanti ke sana. Doakan saja ya.
Oh iya, jangan lupa apa yg kuminta. Buatkan aku yang seperti Afika nanti ya. Hahahha
Satu pesan lagi, kamu harus menangkan hatimu di peperangan ini, bukan egomu, kak.
Salam,
Adikmu yang belum diresmikan secara adat, yang selalu mendoakanmu.
(Ditulis untuk Irwiena)
Labels:
#30HariMenulisSuratCinta
Saturday, January 14, 2012
Antara Sebelah & Seberang (#30HariMenulisSuratCinta2)
Untukmu,
Yang terlalu takut kujemput cintanya.
Apa kabar, kamu?
Semoga selalu baik seperti aku yang selalu mendoakanmu baik.
Pertemuan kita yang selalu gelisah, membuat beberapa niatku jadi tertunda. Apa kamu tau soal yang terasa dan berat untuk dilepas? Kamu pasti paham. :)
Aku mengenalmu sudah terlalu lama dan mengenal harapku yang terlalu cepat. Kita baik dalam bersama, belum tentu baik dalam ikatan.
Itu percakapan terakhir kita.
Sekarang setelah kamu berjalan, kenapa seperti ada yang tersesal? Maaf, aku hanya sedang gelisah soal kasih sayang. Aku tahu kamu tidak memaksa, jelas memang aku yang tak pandai bicara di depan mata. Mata yang selalu kulihat penuh dengan ketulusan.
Maaf, untuk semua cinta yang harus tetap terpendam.
Maaf, untuk langkah yang harus tetap tertahan.
Maaf, untuk cintamu yang memang belum waktunya kubalas.
Di seberang sana, ada penantian yang harus tetap kujaga
Dan di sebelah sini, ada genggaman yang akan tetap kuusahakan.
Semoga kamu mengerti surat ini
Salam,
Orang yang (mungkin) menunggu ketepatan waktu
Yang terlalu takut kujemput cintanya.
Apa kabar, kamu?
Semoga selalu baik seperti aku yang selalu mendoakanmu baik.
Pertemuan kita yang selalu gelisah, membuat beberapa niatku jadi tertunda. Apa kamu tau soal yang terasa dan berat untuk dilepas? Kamu pasti paham. :)
Aku mengenalmu sudah terlalu lama dan mengenal harapku yang terlalu cepat. Kita baik dalam bersama, belum tentu baik dalam ikatan.
Itu percakapan terakhir kita.
Sekarang setelah kamu berjalan, kenapa seperti ada yang tersesal? Maaf, aku hanya sedang gelisah soal kasih sayang. Aku tahu kamu tidak memaksa, jelas memang aku yang tak pandai bicara di depan mata. Mata yang selalu kulihat penuh dengan ketulusan.
Maaf, untuk semua cinta yang harus tetap terpendam.
Maaf, untuk langkah yang harus tetap tertahan.
Maaf, untuk cintamu yang memang belum waktunya kubalas.
Di seberang sana, ada penantian yang harus tetap kujaga
Dan di sebelah sini, ada genggaman yang akan tetap kuusahakan.
Semoga kamu mengerti surat ini
Salam,
Orang yang (mungkin) menunggu ketepatan waktu
Labels:
#30HariMenulisSuratCinta
Friday, January 13, 2012
Kepada Yang Kutanya, Hatiku (#30HariMenulisSuratCinta 1)
Hei,kita sudah kenal lama kan? Bisa kita bicara?
Aku tidak menuntutmu banyak. Aku hanya ingin satu keharusan yang tepat. Dan itu harus pilihanmu. Bagaimana?
Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik di sini. Aku yakin kamu tahu apa yang harus kamu tetapkan untuk sebuah kebaikan. Tapi kenapa semua yang baik belum tentu dipentingkan? Aku tanya ini padamu!
Belakangan aku perhatikan kamu mulai tidak tegas. Kenapa begitu? Aku maunya dia yang sudah lama ada padamu. Kenapa kamu tidak membantu aku untuk memberitahunya?
Kamu pikir kamu siapa berani-beraninya menyimpan dia begitu lama dalam dirimu?
Hei, hati. Kamu harus jawab ini segera!
Sudah berapa kali aku bilang, bahwa aku harus mengikuti apa katamu. Tapi kamu malah menyuruhku untuk mengikuti kata orang. Ini menyiksakku dan menyakitimu. Jangan sombong!
Sudah berapa kali aku bilang, kamu itu bukan sampah yang bisa dipungut kapan saja saat dirasa cukup punya manfaat! Kamu harus tegas pada apa yang kamu rasakan dan cepat katakan!
Aku percaya kita masih teman baik. Jadi jangan kamu simpan lagi dia terlalu lama dalam genggamanmu. Itu terlalu egois jika kamu hanya menikmatinya sendiri tanpa memberitahu orang lain, bahkan dia.
Aku tulis ini sebagai permintaanku yang terbesar, untuk kamu berani mengeluarkan dia dari dirimu, hatiku.
Kamu pasti bisa.
Salam, cinta.
Aku tidak menuntutmu banyak. Aku hanya ingin satu keharusan yang tepat. Dan itu harus pilihanmu. Bagaimana?
Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik di sini. Aku yakin kamu tahu apa yang harus kamu tetapkan untuk sebuah kebaikan. Tapi kenapa semua yang baik belum tentu dipentingkan? Aku tanya ini padamu!
Belakangan aku perhatikan kamu mulai tidak tegas. Kenapa begitu? Aku maunya dia yang sudah lama ada padamu. Kenapa kamu tidak membantu aku untuk memberitahunya?
Kamu pikir kamu siapa berani-beraninya menyimpan dia begitu lama dalam dirimu?
Hei, hati. Kamu harus jawab ini segera!
Sudah berapa kali aku bilang, bahwa aku harus mengikuti apa katamu. Tapi kamu malah menyuruhku untuk mengikuti kata orang. Ini menyiksakku dan menyakitimu. Jangan sombong!
Sudah berapa kali aku bilang, kamu itu bukan sampah yang bisa dipungut kapan saja saat dirasa cukup punya manfaat! Kamu harus tegas pada apa yang kamu rasakan dan cepat katakan!
Aku percaya kita masih teman baik. Jadi jangan kamu simpan lagi dia terlalu lama dalam genggamanmu. Itu terlalu egois jika kamu hanya menikmatinya sendiri tanpa memberitahu orang lain, bahkan dia.
Aku tulis ini sebagai permintaanku yang terbesar, untuk kamu berani mengeluarkan dia dari dirimu, hatiku.
Kamu pasti bisa.
Salam, cinta.
Labels:
#30HariMenulisSuratCinta
Subscribe to:
Posts (Atom)
