Thursday, August 18, 2011

Antar aku ke mana?


" Aku tahu kamu pasti bisa ngertiin aku."

Kalimat itu sudah lima kali terucap dari bibirnya sejak satu jam kami duduk di cafe ini. Aku masih saja diam. Semua sebenarnya memang sudah jelas, tapi dia masih saja barusaha (lagi) menjelaskan semuanya dari awal. Katanya aku belum paham.

"Kamu pernah bilang hidup itu pilihan. Pilih apa kata hati jangan apa kata orang. Dan aku sedang menerapkannya sekarang."

Itu memang benar. Tapi dia lupa bahwa dalam sebuah pilihan, menyakiti hati orang lain seharusnya tidak termasuk di dalamnya. Dia juga lupa, bahwa masalah hati juga tidak bisa diajak diskusi. Sekarang maunya siapa yang harus diikuti? Tidak semua pilihan yang benar itu baik kan? Terutaman dalam hubungan ini. Hubungan kami.

"Aku tahu kalau kamu belum bisa nerima ini semua. Tapi aku kenal baik kamu, kamu orang yang selalu penuh pertimbangan, apalagi untuk kebaikan bersama."

Kali ini ucapannya dibarengi dengan memegang tanganku. Erat sekali. Aku tahu dia sungguh-sungguh. Itu makanya aku yakini pilihanku bersamanya selama tiga tahun belakangan ini. Tapi ini benar-benar sulit. Dia memintaku untuk hal yang aku sendiri tidak pernah berpikir untuk melakukannya. Apalagi untuknya, untuk dia yang telah aku pilih untuk berjalan disampingku, nanti.

"Dia baik, kamu baik, aku kenal baik kalian. Bisa demi aku?"

Ini pertanyaan yang sangat menjebak buatku. Demi? Dia pikir yang sudah aku lalukan selama ini apa kalau bukan DEMI? Iya, benar. Aku selalu demi dia, sekarang dia demikian.

"Sayang, tolong. Aku nggak bisa nolak permintaannya. Dia nggak pernah tahu hubungan kita selama ini. Aku juga nggak pernah cerita. Tapi waktu dia bilang dia suka dan sayang sama kamu aku nggak bisa berbuat apa-apa. Dia bilang dia akan melakukan apapun untuk kamu, bahkan dia kenal kamu duluan daripada aku kan? Aku juga baru tahu kalau sosok perempuan yang dia ceritain selama ini, itu kamu. Aku bisa apa? Dia temen aku. Nggak bisa aku korbanin dia."

Kalimat terakhir darinya itu sudah cukup. Aku rasa pertemuan ini harus disudahi, dia terlalu dangkal mikirnya. Atau aku yang terlalu jauh memahaminya?
Aku beranjak dari tempat dudukku, membawa kakiku pergi menjauhinya. Tepat setelah aku memutar arah, dia menarik tanganku.

"Aku yang antar kamu pulang!"
"Kamu bahkan telah meninggalkanku di sini. Bagaimana mungkin kamu mengantar aku?"

Kalimat pertama dan terakhir yang kuucapkan. Perlahan genggaman tangannya merenggang.
Dia benar-benar melepasku.

















No comments:

Post a Comment